Anestesi Spinal Levobupivacaine Isobarik pada Sectio Caesarea
Nasman Puar
Nasman Puar

Anestesi Spinal Levobupivacaine Isobarik pada Sectio Caesarea
Sumber: Medicinus April 2021 vol. 34 issue 1
Nasman Puar
Spesialis Anestesi RSUP Dr. M. Djamil Padang
Sectio caesarea (SC) atau operasi sesar merupakan metode persalinan di mana janin dilahirkan melalui insisi pada dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh dan berat janin lebih dari 500 gram. Menurut WHO, jumlah tindakan sectio caesarea pada tahun 2011 dilaporkan mengalami peningkatan 5 kali dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Standar rata-rata jumlah sectio caesarea di suatu negara berkisar antara 5-15% per 1000 kelahiran di dunia. Di Indonesia, angka kejadian operasi sesar juga terus meningkat baik di rumah sakit pemerintah maupun di rumah sakit swasta. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan proporsi kelahiran melalui metode operasi sesar sebesar 9,8% dari total 49.603 kelahiran sepanjang tahun 2010 sampai dengan 2013, dengan proporsi tertinggi di DKI Jakarta (19,9%) dan terendah di Sulawesi Tenggara (3,3%).[1],[2]
Memberikan anestesi dengan teknik yang aman dan efektif pada tindakan sectio caesarea membutuhkan pemahaman yang menyeluruh tentang perubahan fisiologi yang terjadi pada kehamilan, proses melahirkan, dan kelahiran bayi. Perubahan ini terjadi sebagai akibat dari perubahan keseimbangan hormonal ibu, perubahan biokimia akibat besarnya kebutuhan metabolik fetus dan plasenta, serta tekanan mekanik dari uterus. Meskipun setiap sistem organ dipengaruhi oleh kondisi kehamilan, perubahan pada sistem kardiovaskular, respirasi, dan gastrointestinal memiliki implikasi besar terhadap efek anestesi pada tindakan sectio caesarea.[3]
Teknik anestesi yang banyak digunakan untuk pasien yang menjalani operasi sesar adalah spinal anesthesia. Anestesi spinal adalah metode anestesia yang melibatkan injeksi obat anestesi lokal ke dalam ruang intratekal yang menghasilkan efek analgesia. Pemberian obat anestesi lokal dilakukan melalui injeksi ke dalam ruang intratekal atau ruang subaraknoid di area lumbal yaitu L2-3, L3-4, atau L4-5 untuk menghasilkan onset anestesi yang cepat dengan derajat keberhasilan yang tinggi. Walaupun teknik ini sederhana, dengan adanya pengetahuan anatomi, efek fisiologi dari anestesi spinal, faktor-faktor yang memengaruhi distribusi anestesi lokal di ruang intratekal, serta komplikasi anestesi spinal akan mengoptimalkan keberhasilan terjadinya blok anestesi spinal.[4]
Salah satu agen anestesi lokal yang sering digunakan untuk anestesi spinal adalah bupivacaine. Bupivacaine adalah obat anestesi lokal jenis amida yang memiliki masa kerja panjang dan mula kerja yang pendek. Seperti halnya anestesi lokal lainnya, bupivacaine akan menyebabkan blokade yang bersifat reversibel pada perambatan impuls sepanjang serabut saraf, dengan cara mencegah pergerakan ion-ion natrium melalui membran sel, yang akan masuk ke dalam sel. Bupivacaine merupakan campuran rasemat dari isomer optik levobupivacaine dan dextrobupivacaine dengan perbandingan yang sama, yang dikenal juga sebagai enantiomer S(-) dan R(+). Molekul bupivacaine dalam bentuk campuran rasemat diketahui memiliki indeks terapeutik yang sempit dan memiliki risiko kardiotoksisitas yang lebih tinggi, oleh karena itu dikembangkan obat anestesi lokal dengan profil keamanan yang lebih baik berupa enansiomer tunggal dari bupivacaine yaitu levobupivacaine.[5]
Levobupivacaine adalah enantiomer S(-) murni dari senyawa rasemat bupivacaine dengan profil toksisitas yang lebih minimal terhadap sistem kardiovaskular dan sistem saraf pusat. Potensi efek anestesi levobupivacaine dalam memblok saraf mirip dengan bupivacaine pada penelitian in vivo dengan cara pemberian dan konsentrasi obat yang sama. Secara umum, onset dan durasi dari blok sensorik dan motorik dari levobupivacaine ataupun bupivacaine dalam dosis yang sama adalah equipotent. Beberapa penelitian menyatakan bahwa penggunaan levobupivacaine isobarik pada pasien yang menjalani operasi sesar menghasilkan efek yang sebanding dengan bupivacaine hiperbarik dengan profil keamanan yang lebih baik. Kejadian efek samping seperti hipotensi, bradikardi, mual dan muntah yang ditimbulkan dari pemberian levobupivacaine isobarik lebih minimal dibandingkan dengan pasien yang menerima bupivacaine hiperbarik.[6],[7]
Salah satu sediaan levobupivacaine isobarik yang beredar di Indonesia yang dapat digunakan untuk anestesi spinal adalah LEVICA yang dipasarkan oleh PT Dexa Medica. LEVICA sudah mendapatkan approval dari BPOM untuk pemberian secara intratekal (spinal). Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan sedikit sharing terkait cara penyuntikan produk LEVICA untuk anestesi spinal pada pasien yang akan menjalani operasi sesar. Berikut adalah tahapan penyuntikannya:
Untuk lebih jelasnya dapat melihat ilustrasi penyuntikan sebagai berikut:

Gambar 1. Cara penyuntikan Levica secara spinal
DAFTAR PUSTAKA