Efek Terapi Gel Lidah Buaya (Aloe Vera) dalam Penyembuhan Luka
Medisa Primasari
Medisa Primasari

Efek Terapi Gel Lidah Buaya (Aloe Vera) dalam Penyembuhan Luka
Sumber: Medicinus November 2019 vol. 32 issue 3
Medisa Primasari
Dosen tidak tetap/paruh waktu FK Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta
Abstrak
Lidah buaya (Aloe vera) merupakan tanaman yang telah digunakan sejak lebih dari 4000 tahun yang lalu, karena manfaatnya untuk pengobatan. Berbagai kandungan lidah buaya diyakini memiliki efek positif bagi kesehatan. Salah satu manfaat dari gel lidah buaya adalah meningkatkan efektivitas dan kualitas penyembuhan luka. Penyembuhan luka merupakan proses kompleks yang melibatkan 3 fase penting yaitu fase inflamasi, proliferasi, serta remodeling. Lidah buaya memiliki banyak peran, khususnya dalam fase inflamasi dan proliferasi. Hal ini disebabkan oleh aktivitas antimikrobia, anti-inflamasi, immunomodulator yang dimiliki oleh lidah buaya. Selain itu secara khusus, dalam penyembuhan luka pada kulit, pemberian lidah buaya mampu meningkatkan angiogenesis, mempercepat proliferasi dan migrasi sel, serta meningkatkan produksi kolagen.
Kata Kunci: aloe vera, proses penyembuhan luka, kandungan kimiawi, efek terapi
PENDAHULUAN
Aloe vera, atau yang juga dikenal sebagai lidah buaya, merupakan tanaman yang dipercaya memberikan manfaat untuk kesehatan sejak lebih dari 4000 tahun yang lalu. Aloe vera (Aloe barbadensis Miller) berasal dari daerah Mediterania Eropa Selatan, Afrika Utara serta pulau Canary, namun banyak juga tumbuh di daerah Asia, Amerika bagian selatan, Meksiko, Aruba, Banamas dan beberapa daerah lain yang beriklim tropis.1,2
Di Indonesia, tanaman lidah buaya cukup mudah ditemukan karena kondisi alam Indonesia yang sesuai untuk pembiakannya. Di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, tanaman ini mampu beradaptasi dan tumbuh dengan optimal. Jenis lidah buaya yang dikembangkan di daerah Pontianak merupakan jenis Aloe chinensis Baker, yang kebanyakan diolah sebagai bahan baku makanan dan minuman seperti dodol, selai, kerupuk, dan lain-lain.2
Belakangan ini, popularitas lidah buaya semakin meningkat semenjak ekstrak dari tanaman ini dijadikan sebagai bahan dasar produk-produk kecantikan dan kesehatan oleh industri kosmetik dan perawatan tubuh. Kita mengenal berbagai produk yang mengandung ekstrak lidah buaya, seperti pelembab, sabun, masker wajah serta produk pembersih rambut. Selain bermanfaat untuk kulit dan rambut, lidah buaya juga dipercaya untuk mengatasi kesulitan buang air besar (konstipasi).3,4
Dalam mengatasi permasalahan kulit, gel yang mengandung ekstrak lidah buaya diyakini memiliki manfaat untuk mempercepat penyembuhan luka, mengurangi rasa gatal dan peradangan, serta memberikan sensasi menenangkan atau sensasi dingin akibat sengatan matahari.4 Dalam proses penyembuhan luka, pemberian lidah buaya meningkatkan efektivitas dan kualitas penyembuhan luka. Pemberian gel lidah buaya pada luka seksio sesarea menunjukkan efek penyembuhan dalam waktu 24 jam dibandingkan dengan terapi standar pembalutan luka operasi tanpa ditemukan efek samping.5 Akhir-akhir ini penelitian mengenai manfaat lidah buaya untuk penyembuhan luka mulai banyak dilakukan dan hasilnya cukup memuaskan.6
Penyembuhan luka merupakan proses yang tidak sederhana. Proses penyembuhan luka ini melibatkan interaksi dari sel, matriks ektraseluler, pembuluh darah, protease, cytokine dan chemokine. Topik ini banyak perbincangkan dalam ruang lingkup bedah. Hal ini disebabkan karena angka mortalitas dan morbiditasnya yang masih cukup tinggi, meskipun pemahaman tentang mekanisme penyembuhan dan prinsip perawatan luka sudah maju dan berkembang.7,8
Komplikasi yang sering terjadi dalam penyembuhan luka diantaranya adalah keterlambatan penyembuhan luka, infeksi dan rasa nyeri pada luka setelah operasi atau trauma.9,10 Dalam kondisi normal, penutupan celah luka serta pembentukan epitel baru akan terjadi secara cepat. Namun jika terjadi gangguan secara molekuler ataupun seluler, kecepatan penyembuhan luka akan lebih lambat. Beberapa hal yang mempengaruhi lambatnya penyembuhan luka antara lain ukuran luka, cadangan darah, mikroorganisme ataupun debris pada luka, usia, status kesehatan serta status nutrisi dari penderita.11
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memahami mekanisme seluler dan molekuler penyembuhan luka serta memahami peran dan manfaat lidah buaya dalam fase penyembuhan luka.
STRUKTUR DAN KANDUNGAN KIMIAWI
Tanaman lidah buaya (Aloe vera) memiliki 2 bagian penting yang bermanfaat untuk kesehatan, yaitu bagian gel yang terdapat di tengah daun lidah buaya serta “aloe latex”, yaitu cairan yang berwarna kekuningan yang berada tepat di bawah lapisan terluar tanaman. Gel lidah buaya dapat diperoleh dengan mengiris bagian terluar serta aloe latex dari tanama ini. Jika sebagian besar produk kesehatan memanfaatkan gel dari lidah buaya, aloe latex bermanfaat untuk mengatasi masalah konstipasi. Antrhaquinone yang terdapat dalam aloe latex memiliki efek laxative yang poten dengan cara meningkatkan penyerapan air ke dalam usus, meningkatkan peristaltik serta menstimulasi sekresi mukus.12,13
Lidah buaya terbukti memiliki berbagai kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu kandungan dalam lidah buaya yang memiliki efek positif dalam penyembuhan luka adalah kandungan polisakarida, terutama acemannan, sebuah β-(1,4)-acetylpolymannan. Acemannan merupakan komponen aktif utama yang terdapat dalam lidah buaya. Zat ini terdiri dari polimer rantai panjang yang terbentuk dari glukosa dan mannose. 15 Acemannan menunjukkan aktivitas biologis sebagai antikanker, antiinflamasi, antimikroba serta meningkatkan proliferasi sel sehingga membantu mempercepat penyembuhan luka.6,16 Berikut adalah berbagai kandungan kimia di dalam lidah buaya:3,6, 14, 17
PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Setelah terjadi perlukaan pada kulit, penyembuhan luka akan melalui 3 fase yang kompleks, yaitu fase inflamasi, proliferasi, serta fase penggantian jaringan (remodeling). Proses inflamasi diawali dengan hemostasis, yaitu pembentukan clot oleh benang-benang fibrin yang dimediasi oleh platelet. Platelet nantinya juga akan menghasilkan mediator-mediator untuk menarik makrofag serta fibroblast ke area luka. Dalam proses ini terjadi migrasi dari neutrophil, limfosit serta perubahan monosit menjadi makrofag.7
Fase proliferasi meliputi re-epitelialisasi atau pembentukan dan penyusunan epitel baru, angiogenesis serta pembentukan kolagen dan matriks ekstraseluler. Re-epitelialisasi merupakan proses pelapisan epidermis oleh keratinosit untuk menutup luka yang terjadi pada fase awal dari penyembuhan luka. Platelet menghasilkan epidermal growth factor (EGF) dan transforming growth factor (TGF ) yang menstimulasi keratinosit untuk berproliferasi serta migrasi menutup luka.18 Di saat bersamaan, fibroblast akan mengalami proliferasi serta migrasi, dan mensintesis kolagen serta matriks ekstraseluler lain untuk menutup jaringan luka (proses ini disebut fibroplasia). Bersamaan dengan proses fibroplasia, terjadi proses pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis). Hal ini dipacu oleh kondisi tekanan oksigen yang rendah serta peningkatan laktat pada jaringan yang terluka. Pembentukan pembuluh darah baru ini sangat dipengaruhi oleh pembuluh darah yang ada di tepi luka.19,20 Disregulasi dari fase proliferatif diyakini menjadi penyebab terjadinya luka kronis serta scar hipertrofi dan keloid. Dalam penyembuhan luka, cytokine dan faktor pertumbuhan yang meliputi pertumbuhan serta cytokine yang berperan dalam proses penyembuhan luka tumor necrotizing factor (TNF), platelet-derived growth factor (PDGF), fibroblast growth factor (FGF), vascular endothelial growth factor (VEGF), insulin growth factor (IGF) dan epidermal growth factor (EGF) sebagai target terapi dalam penyembuhan luka.18
Proses remodeling terjadi dalam waktu mingguan hingga tahunan. Pada fase ini, terjadi penggantian dari kolagen tipe III menjadi tipe I yang lebih kuat, hingga terjadi perbandingan 4:1 (seperti pada kulit normal). Pada awalnya koordinasi dari ikatan kolagen belum beraturan, namun pada fase remodeling, susunan kolagen lebih teratur. Kondisi ini menyebabkan kekuatan jaringan kulit baru meningkat. Pada minggu ke-1, kekuatan regangan dari jaringan baru hanya sebanyak 3% dan mencapai puncaknya (70–80%) dalam 3 bulan setelah terjadi perlukaan.21,22
Bagan 1. Fase penyembuhan luka18

Aktivitas immunomodulator, antiinflamasi, antimikroba
Pada proses awal inflamasi, setelah terjadi hemostasis, sel-sel inflamasi bertugas untuk melakukan fagositosis dan berperan sebagai agen antimikroba dengan menghilangkan debris jaringan yang sudah mati, serta membunuh mikroba yang ada pada area yang mengalami perlukaan.23 Proses inflamasi yang memanjang atau berulang dapat menghambat proses penyembuhan luka serta menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik yang luas dan menebal. Dalam kondisi normal, sel-sel proinflamasi akan ditekan oleh agen antiinflamasi sehingga proses inflamasi tidak akan berlangsung secara berkepanjangan. Lidah buaya diyakini memiliki kemampuan sebagai agen antiinflamasi dengan menekan agen proinflamasi seperti TNF-α dan IL-1β serta aktivitas matrix metalloproteinase (MMP-9).24,25 Penelitian oleh Tarameshloo M, et al. menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol, jumlah neutrophil yang terdeteksi pada luka pada tikus masih tetap tinggi pada hari ke-14 dibandingkan dengan grup yang diberi Aloe vera. Hal ini menunjukkan terjadinya perpanjangan proses inflamasi pada kelompok kontrol.26 Efek antimikroba dan imunomodulator dari lidah buaya sangat bermanfaat untuk mencegah kolonisasi bakteri yang dapat menyebabkan infeksi dan menghambat penyembuhan luka. Aktivitas antimikroba dari ekstrak lidah buaya terbukti mampu menekan angka pertumbuhan bakteri, seperti S. Aureus, Bacillus spp., Enterococcus spp., E. coli, Salmonella typhimurium, P. Aeruginosa dan Vibrio spp. Hasil dari penelitian oleh Kwon, et al. 27 dan Rubina L, et al. 28 menemukan bahwa keseluruhan daun dan gel lidah buaya mengandung anthraquinone dan saponin yang bersifat antimikroba. Zat lain yang terkandung dalam lidah buaya adalah polisakarida, yang mempunyai efek langsung membunuh bakteri melalui proses fagositosis.29 Hasil penelitian berbeda dilaporkan oleh Banu, et al. Mereka melaporkan bahwa pemberian gel lidah buaya pada pasien dengan ulkus pada kaki yang terinfeksi bakteri multidrugs resistant (MDR) tidak efektif menurunkan pertumbuhan bakteri.30 Studi lain melaporkan bahwa pemberian ekstrak lidah buaya dalam konsentrasi rendah dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri Lactobasillus, tetapi pemberian dalam konsentrasi tinggi dapat menekan pertumbuhan bakteri di dalam organ pencernaan.31
Mempercepat proses re-epitelialisasi
Dalam proses penyembuhan luka, pemberian gel lidah buaya dengan konsentrasi tertentu mampu mempercepat kontraksi penutupan luka dan terjadinya epitelialisasi, memperkecil ukuran jaringan parut dan mengatur penyusunan jaringan parut pada luka.6 Penelitian lain yang baru-baru ini dilakukan dengan menggunakan isolasi keratinosit dan fibroblast manusia juga menunjukkan hasil serupa. Teplicki E, et al. membuktikan bahwa pemberian lidah buaya dapat mempercepat penyembuhan luka dengan mempercepat proliferasi fibroblast, keratinosit dan menstimulasi migrasi sel-sel tersebut.19 Pernyataan tersebut didukung dengan hasil penelitian oleh Chitra, et al. yang membuktikan bahwa lidah buaya membantu proliferasi fibroblast, meningkatkan gugus aldehyde pada serat kolagen serta menstimulasi dan membantu pembentukan jaringan epidermis yang berkorelasi dengan kecepatan penutupan luka.32 Dalam studinya, Teplicki E, et al. melaporkan bahwa lidah buaya memiliki efek protektif untuk melindungi kematian keratinosit akibat zat-zat pengawet.19
Meningkatkan sintesis kolagen
Selain mendukung proses epitelialisasi, lidah buaya juga mampu meningkatkan produksi kolagen. Kolagen merupakan protein utama dari matriks ekstraseluler yang berfungsi untuk memberikan kekuatan pada jaringan kulit. Studi yang dilakukan oleh Chithra P, et al. memperlihatkan bahwa gel lidah buaya dapat meningkatkan jumlah glucosaminoglycan yang secara positif berpengaruh terhadap pembentukan kolagen dan matriks ekstraseluler pada fase proliferasi.33 Hasil serupa dilaporkan oleh Oryan A, et al. 6 yaitu lidah buaya meningkatkan jumlah glucosaminoglycan dan jaringan kolagen. Lidah buaya memiliki molekul biologi aktif yang menstimulasi pembentukan jaringan epidermis, meningkatkan sintesis kolagen dan remodeling serta menambah kekuatan regangan.32
Proangiogenesis
Lidah buaya tidak hanya berefek pada jaringan normal, namun juga memberikan efek terapi pada gangguan vaskuler seperti yang banyak terjadi pada penderita diabetes melitus. Chithra, et al. melakukan evaluasi pada pengaruh gel lidah buaya untuk full-thickness wound pada tikus. Hasilnya menunjukkan bahwa terapi dengan lidah buaya meningkatkan fibroplasia, sintesis kolagen serta penutupan luka.32
Atiba, et al. melakukan penelitian untuk menilai ekspresi gen VEGF dan TGF-B1 di area luka pada tikus model diabetes melitus tipe 2 dengan memberikan ekstrak lidah buaya secara oral. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan angiogenesis oleh VEGF serta peningkatan kolagen seiring peningkatan TGFβ-1 yang menstimulasi fibroblast. 34 Perbandingan efek terapi dari lidah buaya dengan hormon tiroid serta silver sulfadiazine (SSD) dalam penyembuhan luka juga pernah dilakukan oleh Tamashloo M, et al. Mereka melaporkan bahwa lidah buaya memiliki efek terapi yang lebih superior dibandingkan hormon tiroid serta SSD dalam proliferasi fibroblast, angiogenesis, re-epitelialisasi serta percepatan penutupan luka.26
Dalam mengurangi morbiditas akibat luka, lidah buaya juga membantu mengurangi nyeri luka operasi hemoroidektomi dibandingkan dengan kontrol.35 Efek analgesic lidah buaya dipengaruhi oleh kandungan enzim carboxypeptidase serta bradykinase yang bermanfaat untuk meredakan nyeri.36
Efek samping dan kontraindikasi
Pemberian lidah buaya secara topikal dapat menyebabkan sensasi terbakar, kemerahan serta nyeri pada individu yang sensitif. Reaksi alergi terjadi akibat dari kandungan anthraquinone seperti aloin dan barbaloin yang terdapat pada lidah buaya. Di samping efek laksatifnya, konsumsi lidah buaya secara peroral seringkali menyebabkan kram perut, diare, perburukan dari konstipasi serta gangguan elektrolit (penurunan kadar kalium). Dalam penggunaan jangka panjang, lidah buaya dilaporkan dapat meningkatkan risiko kanker usus-rektum. Walaupun jarang menyebabkan alergi, namun lidah buaya tidak disarankan untuk pasien yang memiliki alergi terhadap tanaman Liliaceae, serta untuk ibu hamil dan menyusui.3
KESIMPULAN
Tanaman lidah buaya (Aloe vera) yang belakangan menjadi salah satu komoditas pertanian di daerah tropis berpeluang besar untuk dikembangkan di Indonesia, karena sudah dikenal luas akan manfaatnya bagi kesehatan. Beberapa contoh manfaatnya adalah mengatasi konstipasi, permasalahan kulit dan rambut serta dalam penyembuhan luka. Namun sejauh ini, lidah buaya masih dianggap sebagai obat alternatif yang belum teruji secara klinis. Dalam perannya untuk penyembuhan luka, penelitian efek terapi lidah buaya pada manusia juga masih sedikit jumlahnya, walaupun dari berbagai macam percobaan pada hewan dan sel manusia, kandungan yang terdapat dalam lidah buaya memiliki efek positif pada proses molekuler dan seluler dalam fase penyembuhan luka. Oleh sebab itu, masih diperlukan uji klinis manfaat penggunaan lidah buaya dalam penyembuhan luka pada manusia.
DAFTAR PUSTAKA