Ekstrak Daun Zaitun (Olea europaea L.) Untuk Tata Laksana Hipertensi

Ekstrak Daun Zaitun (Olea europaea L.) Untuk Tata Laksana Hipertensi

Swandari Paramita, Fenny Yunita

Ekstrak Daun Zaitun (Olea europaea L.) Untuk Tata Laksana Hipertensi

 

Ekstrak Daun Zaitun (Olea europaea L.) Untuk Tata Laksana Hipertensi
Sumber: Medicinus April 2022  vol. 35 issue 1
Swandari Paramita[1],[3], Fenny Yunita[2],[3]
[1]Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman, Samarinda [2]Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanegara, Jakarta [3]Perkumpulan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI)

ABSTRAK
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah kondisi medis yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kerusakan organ target seperti penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal, dan sebagainya. Kondisi hipertensi berkaitan dengan angka kematian yang tinggi di seluruh dunia. Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan, dengan profil keamanan yang baik dan biaya yang terjangkau. Oleh karena itu pengembangan obat herbal yang potensial untuk penanganan hipertensi dapat menjadi salah satu strategi yang dapat diupayakan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan hipertensi. Salah satu bahan alam yang mendapat perhatian adalah daun zaitun (Olea europaea L.). Kandungan utama dari daun zaitun antara lain adalah oleuropein yang telah diketahui memiliki efek sebagai penurun tekanan darah. Berdasarkan hasil penelitian preklinik dan uji klinik, ekstrak daun zaitun memiliki potensi untuk membantu mengendalikan tekanan darah sehingga akan menjadi pilihan terapi yang bermanfaat dalam tata laksana kasus hipertensi. Ekstrak daun zaitun juga terbukti dapat membantu memperbaiki profil lipid dengan profil keamanan yang baik.
Kata kunci: hipertensi, ekstrak daun zaitun, oleuropein

Pendahuluan

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah kondisi medis serius yang secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kerusakan organ target seperti penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal, dan sebagainya. Hipertensi adalah penyebab utama kematian dini di dunia. Salah satu target global untuk penanganan penyakit tidak menular adalah menurunkan prevalensi hipertensi menjadi 33% pada tahun 2030. Diperkirakan sebanyak 1,28 miliar penduduk dunia dewasa yang berusia 30-79 tahun memiliki kondisi hipertensi, dan dua pertiga di antaranya berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Diperkirakan 46% orang dewasa tidak menyadari bahwa diri mereka menderita hipertensi, dan kurang dari separuh orang dewasa (42%) dengan hipertensi yang berhasil terdiagnosis dan diobati. Diperkirakan hanya 1 dari 5 orang dewasa (21%) yang mampu mencapai kontrol tekanan darah yang baik.[1]

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia pada penduduk yang berusia di atas 18 tahun berdasarkan pengukuran secara nasional sebesar 34,11%. Kelompok perempuan memiliki proporsi hipertensi yang relatif lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Pola ini dapat teramati pada hasil Riskesdas tahun 2013 dan tahun 2018.[2] Hipertensi didiagnosis ketika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg, dan bersifat menetap. Individu dengan hipertensi harus menerima terapi farmakologis sesuai pedoman pengobatan terkini untuk menurunkan risiko terjadinya kerusakan organ target dan berbagai komplikasi.[3]

Sebagian besar pasien hipertensi akan membutuhkan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai tekanan darah yang diinginkan, sehingga dapat meningkatkan risiko efek samping obat dan biaya pengobatan. Oleh karena itu pengembangan obat herbal yang potensial untuk penanganan hipertensi dapat menjadi salah satu strategi yang dapat diupayakan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan hipertensi. Salah satu yang mendapat perhatian adalah daun zaitun (Olea europaea L.).[4] Tulisan ini bermaksud menjelaskan potensi ekstrak daun zaitun untuk tata laksana kasus hipertensi.

Daun Zaitun

Tanaman zaitun (Olea europaea L.) termasuk dalam famili Oleaceae. Pohonnya dapat tumbuh setinggi kira-kira 6-9 meter. Tanaman ini berasal dari negara-negara Eropa Selatan dan di seluruh wilayah Mediterania hingga Iran. Daun zaitun tumbuh dengan jarak antar daun yang sempit dan linier, dengan seluruh tepi dan ujung lancip, berwarna hijau keabu-abuan di atas, bagian bawah lebih terang, serta memiliki bulu putih halus seperti sisik. Kandungan utama dari daun zaitun adalah senyawa secoiridoids seperti oleuropein, ligstroside, l-methyloleuropein, dan oleoside, serta flavonoid (apigenin, kaempferol, luteolin, dan chrysoeriol), juga senyawa fenolik (caffeic acid, tyrosol dan hydroxytyrosol).[5]

Mekanisme kerja oleuropein dan turunannya adalah sebagai berikut: memiliki efek vasodilatasi pembuluh darah, meningkatkan produksi nitric oxide (NO), mencegah proses oksidasi low-density lipoprotein (LDL), antiinflamasi, mencegah agregasi trombosit, menghambat produksi lipoxygenase dan eicosanoids dalam proses inflamasi, melawan efek sitotoksisitas yang dimediasi reactive oxygen species (ROS), serta perbaikan profil lipid.[6]

Oleuropein telah diketahui memiliki efek menurunkan tekanan darah. Hasil studi terbaru oleuropein terkait efek penurunan tekanan darah menunjukkan bahwa oleuropein melindungi hipotalamus dari stres oksidatif dengan meningkatkan fungsi mitokondria melalui aktivasi jalur signaling yang dimediasi Nrf2. Efek ini terbukti ketika suplementasi diberikan, baik sebelum atau sesudah timbulnya onset hipertensi. Oleuropein dapat menjadi strategi pencegahan dan pengobatan hipertensi. Selain efek penurunan tekanan darah, studi juga menunjukkan bahwa oleuropein memiliki potensi aktivitas cardioprotective, antiinflamasi, antioksidan, antikanker, antiangiogenik, dan neuroprotektif.[6]

Daun zaitun banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Daun zaitun dan ekstraknya telah digunakan dalam banyak komunitas pengobatan karena kemampuannya sebagai pembunuh patogen alami dengan menghambat proses replikasi berbagai patogen. Berdasarkan berbagai literatur, baik berupa hasil studi preklinik dan uji klinik, daun zaitun juga digunakan pada pengobatan tradisional untuk pilek dan flu, infeksi jamur, infeksi virus (contoh: herpesvirus), menurunkan kadar LDL, memperbaiki aliran darah, serta menurunkan tekanan darah.[5]

Hasil Studi Preklinik dan Uji Klinik Daun Zaitun untuk Hipertensi

Sebuah penelitian preklinik telah mengamati efek antihipertensi dari pemberian ekstrak daun zaitun yang tinggi kandungan oleuropein pada hewan uji yang diinduksi hipertensi spontan. Penelitian ini melihat efek konsumsi jangka panjang ekstrak daun zaitun tinggi oleuropein pada tekanan darah, fungsi endotel, kondisi oksidatif vaskular, dan status inflamasi. Penelitian menggunakan 10 tikus Wistar Kyoto dan 20 tikus yang diinduksi hipertensi spontan, yang terbagi dalam 3 kelompok yaitu kontrol tikus normal, kontrol tikus dengan hipertensi spontan, dan tikus dengan hipertensi spontan yang diberi ekstrak daun zaitun tinggi oleuropein (30 mg/kg) selama 5 minggu. Tampak adanya penurunan tekanan darah sistolik, denyut jantung, serta hipertrofi jantung dan ginjal. Studi ini menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun zaitun tinggi oleuropein dalam jangka panjang dapat menurunkan tekanan darah pada tikus dengan hipertensi spontan. Efek ini berkaitan dengan perbaikan disfungsi endotel dampak penurunan status proinflamasi dan prooksidatif vaskular.[7]

Penelitian lain menunjukkan efek dari ekstrak daun zaitun terhadap respons metabolik, fungsi hati dan ginjal, serta biomarker inflamasi pada pasien hipertensi. Penelitian ini merupakan uji klinik acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo yang dilakukan pada 60 orang pasien hipertensi berusia 30-60 tahun, di mana pasien terbagi dalam 2 kelompok, yang pertama menerima tablet ekstrak daun zaitun 250 mg dan kelompok kedua menerima tablet plasebo. Seluruh pasien meminum obat dua kali sehari selama 12 minggu. Pada awal dan akhir intervensi, parameter metabolik dan biomarker lever, ginjal, serta inflamasi diperiksa menggunakan metode laboratorium yang tersedia. Hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan dengan plasebo, pemberian ekstrak daun zaitun secara signifikan menurunkan parameter inflamasi yaitu interleukin-6 (IL-6), interleukin-8 (IL-8), dan tumor necrosis factor alpha (TNF-α). Hubungan antara parameter inflamasi dan hipertensi berkaitan dengan beberapa mekanisme patofisiologi tertentu. Hasil penelitian prospektif dan cross-sectional sebelumnya menunjukkan bahwa hipertensi berhubungan dengan proses inflamasi sistemik. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa C-reactive protein (CRP) yang tinggi menyebabkan disfungsi endotel dengan menekan secara langsung produksi NO oleh sel endotel. Proses inflamasi vaskular juga berhubungan erat dengan aktivasi sistem renin-angiotensin. Pada otot polos vaskular, CRP meningkatkan regulasi reseptor angiotensin I, yang berperan pada mekanisme kerja angiotensin II sebagai vasokonstriktor dan proaterogenik. Selanjutnya terdapat umpan balik positif angiotensin II pada inflamasi vaskular melalui peningkatan stres oksidatif, penarikan monosit, dan produksi cytokine proinflamasi. Studi ini menyimpulkan bahwa inflamasi yang terbukti sebagai penyebab utama hipertensi secara signifikan dapat ditekan pada pasien yang menerima ekstrak daun zaitun.[8]

Dampak pemberian ekstrak daun zaitun yang tinggi kandungan phenol terhadap penurunan tekanan darah, perbaikan profil lipid plasma, dan marker inflamasi telah diteliti dalam sebuah uji klinik acak terkontrol. Penelitian ini dilakukan pada 60 pasien pria dengan prehipertensi, rerata usia 45 tahun, yang menerima ekstrak daun zaitun dibandingkan yang menerima kontrol plasebo sebanyak sekali sehari selama 6 minggu. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa ekstrak daun zaitun memiliki potensi untuk memodifikasi tekanan darah dan profil lipid plasma pasien.[9]

Penelitian lain menunjukkan bahwa ekstrak daun zaitun efektif pada pasien hipertensi derajat 1 dibandingkan dengan pemberian captopril. Penelitian ini merupakan uji klinik acak paralel tersamar ganda dan terkontrol aktif, yang bertujuan untuk mengevaluasi efek antihipertensi dan profil tolerabilitas ekstrak daun zaitun dibandingkan dengan captopril pada pasien hipertensi derajat 1. Penelitian ini juga melihat efek hipolipidemik dari pemberian ekstrak daun zaitun. Penelitian dimulai dengan periode run-in selama 4 minggu dilanjutkan dengan periode terapi secara double-blind selama 8 minggu. Masing-masing kelompok diberikan terapi dengan ekstrak daun zaitun 500 mg atau captopril 12,5-25 mg dua kali sehari. Di akhir studi dilakukan juga evaluasi untuk perbaikan profil lipid pasien serta aspek keamanan dari terapi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik dari baseline setelah 8 minggu terapi. Perbaikan juga tampak pada profil lipid, berupa terjadinya penurunan kadar kolesterol total dan trigliserida yang signifikan, serta sedikit penurunan nilai LDL. Penurunan trigliserida tidak teramati pada kelompok yang menerima captopril. Evaluasi profil keamanan juga menunjukkan hasil yang baik. Pemberian ekstrak daun zaitun tidak memengaruhi parameter fungsi lever dan ginjal. Sebagian besar efek samping yang timbul bersifat ringan dan dalam batas toleransi. Efek samping yang dilaporkan adalah batuk dan vertigo yang kejadiannya sebanding dengan kelompok kontrol dan dialami sekitar 5% dari seluruh pasien uji klinik. Studi ini menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun zaitun 500 mg dua kali sehari terbukti efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien dengan hipertensi derajat 1 sebanding dengan captopril (12,5-25 mg). Pemberian ekstrak daun zaitun juga memiliki efek perbaikan profil lipid yaitu menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida.[4]

Kesimpulan

Ekstrak daun zaitun (Olea europaea L.) memiliki potensi untuk mencapai pengendalian tekanan darah yang baik dan dapat bermanfaat untuk digunakan dalam tata laksana hipertensi. Ekstrak daun zaitun juga terbukti dapat membantu memperbaiki profil lipid dengan profil keamanan yang baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. World Health Organization. Hypertension. 2021.
  2. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. Hipertensi Si Pembunuh Senyap. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan RI; 2019. 
  3. Unger T, Borghi C, Charchar F, Khan NA, Poulter NR, Prabhakaran D, et al. 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. Hypertension. 2020;75:1334–57. 
  4. Susalit E, Agus N, Effendi I, Tjandrawinata RR, Nofiarny D, Perrinjaquet-Moccetti T, et al. Olive (Olea europaea) leaf extract effective in patients with stage-1 hypertension: Comparison with Captopril. Phytomedicine 2011;18:251–8.European 50 VOL. 35 ISSUE 1, APRIL 2022Medicines Agency. Assessment report on Olea europaea L., folium. London, UK; 2017. 
  5. Sun W, Frost B, Liu J. Oleuropein, unexpected benefits! Oncotarget. 2017;8(11):17409.
  6. Romero M, Toral M, Gómez-Guzmán M, Jiménez R, Galindo P, Sánchez M, et al.
  7. Antihypertensive effects of oleuropein-enriched olive leaf extract in spontaneously hypertensive rats. Food and Function 2015;c5fo01101a.
  8. Javadi H, Yaghoobzadeh H, Esfahani Z, Memarzadeh MR, Mirhashemi SM. Effects of Olive Leaf Extract on Metabolic Response, Liver and Kidney Functions and Inflammatory Biomarkers in Hypertensive Patients. Pakistan Journal of Biological Sciences. 2019;22(7):342–8. 
  9. Lockyer S, Rowland I, Spencer JPE, Yaqoob P, Stonehouse W. Impact of phenolic‐rich olive leaf extract on blood pressure, plasma lipids and inflammatory markers: a randomised controlled trial. Eur J Nutr. 2015;56:1421–32.
Hubungi Kami