Frozen Embryo Transfer dalam Siklus Hormone Replacement Therapy: Tantangan Implantasi dan Dukungan Progesteron Subkutan
Redaksi Ruang Ilmiah
Redaksi Ruang Ilmiah

Frozen Embryo Transfer dalam Siklus Hormone Replacement Therapy: Tantangan Implantasi dan Dukungan Progesteron Subkutan
Perkembangan teknologi reproduksi berbantu atau Assisted Reproduction Technologies (ART) dalam beberapa dekade terakhir membawa harapan besar bagi pasangan dengan infertilitas. Salah satu terobosan penting adalah vitrifikasi embrio yang memungkinkan tingkat keberhasilan tinggi pada prosedur Frozen Embryo Transfer (FET). Namun, meski secara teknis menjanjikan, tantangan klinis masih ada, terutama terkait kegagalan implantasi dan keguguran pada FET yang dilakukan dengan protokol Hormone Replacement Therapy (HRT).
Pada prosedur fresh embryo transfer, aktivitas korpus luteum yang menghasilkan progesteron tetap berfungsi normal setelah kehamilan terjadi karena adanya stimulasi dari hormon hCG embrio. Kondisi ini membuat kadar progesteron relatif stabil. Sebaliknya, pada FET dengan HRT, tidak terbentuk korpus luteum, sehingga pasokan hormon estradiol (E2) dan progesteron sepenuhnya bergantung pada terapi pengganti. Hal ini menjadikan dukungan fase luteal lebih krusial untuk keberhasilan implantasi.
Selama bertahun-tahun, progesteron vaginal dianggap sebagai alternatif praktis dari suntikan intramuskular (IM) yang menyakitkan. Mekanisme “first uterine pass effect” memungkinkan progesteron yang diberikan melalui vagina mencapai konsentrasi tinggi di rahim. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan kelemahan; sebagian pasien yang menggunakan progesteron vaginal memiliki kadar serum progesteron rendah (<10 ng/mL). Kondisi ini dikaitkan dengan tingkat keberhasilan kehamilan lebih rendah dan angka keguguran lebih tinggi.
Fakta ini mengejutkan, sebab meski konsentrasi di rahim cukup tinggi, ternyata kadar serum juga memainkan peran penting. Progesteron tidak hanya bekerja secara lokal di rahim, tetapi juga memengaruhi sistem imun, hati, sumsum tulang, dan adrenal dalam membentuk toleransi imun kehamilan. Oleh karena itu, kadar serum yang rendah dapat menghambat perkembangan kehamilan, meskipun jaringan endometrium sudah siap menerima embrio.
Inovasi terbaru menghadirkan progesteron subkutan (SC) dalam bentuk larutan berbasis cyclodextrin. Sediaan ini lebih mudah disuntikkan sendiri oleh pasien, dan menjadi alternatif dari injeksi IM yang lebih menyakitkan. Studi klinis pada fresh ART menunjukkan bahwa pemberian SC progesteron 25 mg/hari dapat mendukung transformasi endometrium secara penuh, setara dengan sediaan vaginal.
Namun, untuk FET dengan HRT, kebutuhan bisa lebih tinggi. Studi retrospektif menunjukkan bahwa pemberian SC progesteron 25 mg dua kali sehari (BID) menghasilkan tingkat keberhasilan yang setara dengan injeksi IM 50 mg/hari, dengan keunggulan kenyamanan pasien yang lebih baik.
Bagi pasien yang menunjukkan kadar progesteron serum rendah <10 ng/mL) pada hari-hari kritis menjelang transfer embrio, strategi “rescue” dengan tambahan suntikan SC progesteron terbukti efektif. Intervensi ini mampu meningkatkan kadar progesteron hingga di atas ambang batas yang aman, sehingga menurunkan risiko keguguran dan meningkatkan angka kelahiran hidup.
Penggunaan progesteron vaginal saja tidak cukup dalam sebagian besar kasus FET berbasis HRT. Data menunjukkan sekitar 25–33% pasien membutuhkan dukungan tambahan untuk mencapai kadar serum yang memadai. Solusi yang saat ini berkembang:
Dengan pemahaman baru ini, pendekatan personalisasi dukungan fase luteal menjadi semakin penting dalam program FET. Langkah ini diharapkan mampu memaksimalkan tingkat kelahiran hidup sekaligus meminimalkan risiko keguguran dini pada pasien yang menjalani teknologi reproduksi berbantu.
Artikel ini merupakan kesimpulan dari jurnal berjudul Implantation Failures and Miscarriages in Frozen Embryo Transfers Timed in Hormone Replacement Cycles (HRT): A Narrative Review. Jika Dokter ingin membaca jurnal selengkapnya, silakan mengisi formulir melalui tautan berikut ini: https://tally.so/r/w4ZoBO