Kenali dan Atasi Efek Samping Obat Antituberkulosis (OAT)
Marlina Rosalinda Sibuea
Marlina Rosalinda Sibuea

Kenali dan Atasi Efek Samping Obat Antituberkulosis (OAT)
Sumber: Medicinus Juli 2019 vol. 32 issue 2
Apt. Marlina Rosalinda Sibuea, S.Farm.
Medical Management Information - PT Dexa Medica
Obat antituberkulosis atau sering disingkat dengan OAT berguna untuk membunuh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang tubuh penderita tuberkulosis (TB). Pengobatan penyakit TB dengan OAT memang membutuhkan waktu yang relatif lama dan tidak boleh terputus seperti lupa mengonsumsi OAT. Dibutuhkan waktu setidaknya 6 bulan untuk membasmi semua bakteri TB. Ketika pasien tidak teratur dalam mengkonsumsi OAT, hal ini akan membahayakan jiwa pasien, karena bakteri TB akan cepat berkembang dan kemungkinan resisten (kebal) terhadap OAT. Istilah kebalnya bakteri TB terhadap OAT dikenal dengan istilah multidrug-resistant TB (MDR TB). Bila sudah mengalami resistensi, OAT lini pertama yang diberikan akan diganti dengan OAT lini kedua yang membutuhkan waktu terapi yang jauh lebih lama hingga 2 tahun.
Mengonsumsi obat-obatan dalam kurun waktu yang lama tanpa putus tentu bukanlah perkara mudah. Rasa malas meminum obat memang bukan hal langka diantara pasien-pasien TB. Sama halnya dengan obat-obatan lain, OAT dapat menimbulkan efek samping yang menjadi salah satu faktor penyebab tidak patuhnya pasien TB mengonsumsi OAT.
Berdasarkan derajat keseriusannya, efek samping OAT dibagi menjadi:
Di bawah ini adalah penjelasan efek samping masing-masing jenis OAT:
Ethambutol
Ethambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman penglihatan, buta warna untuk warna merah dan hijau. Gangguan penglihatan akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat dihentikan.
Isoniazid (INH)
Efek samping berat berupa hepatitis yang dapat timbul pada kurang lebih 0,5% penderita. Bila terjadi ikterus (perubahan warna kulit menjadi kuning), hentikan pengobatan sampai ikterus membaik. Bila tanda-tanda hepatitis muncul, sebaiknya pasien harus segera berobat ke rumah sakit.
Efek samping INH yang ringan dapat berupa:
Pyrazinamide
Efek samping utama dari penggunaan pyrazinamide adalah hepatitis. Juga dapat terjadi nyeri sendi dan kadang-kadang dapat menyebabkan serangan asam urat. Kadang-kadang terjadi reaksi hipersensivitas misalnya demam, mual, kemerahan dan reaksi kulit yang lain.
Rifampicin
Rifampicin bila diberikan sesuai dosis yang dianjurkan, jarang menyebabkan efek samping, terutama pada pemakaian terus-menerus setiap hari. Salah satu efek samping berat dari rifampicin adalah hepatitis. Bila terjadi ikterus maka pengobatan perlu dihentikan. Pemberian rifampicin dapat diulang kembali bila pasien sudah pulih dari hepatitis.
Efek samping rifampicin yang berat tapi jarang terjadi adalah sesak napas dan syok yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Efek samping rifampicin yang ringan antara lain:
Streptomycin
Efek samping utama dari streptomycin adalah kerusakan saraf yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan dosis yang digunakan dan usia penderita. Kerusakan alat keseimbangan biasanya terjadi pada 2 bulan pertama dengan tanda-tanda telinga mendenging, pusing dan kehilangan keseimbangan. Keadaan ini dapat dipulihkan bila obat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi. Reaksi hipersensivitas kadang-kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba disertai dengan sakit kepala, muntah dan ruam pada kulit. Hentikan pengobatan dan segera pergi ke rumah sakit. Efek samping sementara dan ringan misalnya reaksi setempat pada bekas suntikan, rasa kesemutan pada sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah suntikan.

Frekuensi kejadian efek samping yang paling sering timbul pada bulan pertama dan kelima yaitu mual; pada bulan kedua pusing; serta pada bulan ketiga, keempat dan keenam nyeri sendi. Efek samping lain yang sering timbul akibat penggunaan OAT yaitu mengantuk dan lemas pada bulan pertama, kedua dan ketiga.
Jangan segan berkomunikasi dengan dokter saat proses pengobatan TB. Pemantauan efek samping perlu dilakukan agar tidak menyebabkan menurunnya kepatuhan dalam mengonsumsi obat dan tujuan pengobatan pun dapat tercapai.
Referensi: