Tinjauan Pustaka: Penegakan Diagnosis Krisis Hipertensi

Tinjauan Pustaka: Penegakan Diagnosis Krisis Hipertensi

dr. Karina Puspaseruni

Tinjauan Pustaka: Penegakan Diagnosis Krisis Hipertensi

Tinjauan Pustaka: Penegakan Diagnosis Krisis Hipertensi 

dr. Karina Puspaseruni
Klinik Pratama Borneo Lestari, Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Korespondensi: Jl. Tauman no. 3 Komplek Cahaya Ratu Elok, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Abstrak
Krisis hipertensi diklasifikasikan menjadi hipertensi emergensi dan urgensi berdasarkan ada atau tidaknya kerusakan organ akut. Krisis hipertensi menggambarkan keadaan tekanan darah 180/120 mmHg dengan atau tanpa tanda kerusakan organ. Kerusakan target organ akibat hipertensi (HMOD) mengacu pada perubahan struktural dan fungsional arteri atau organ seperti jantung, pembuluh darah, otak, mata, dan ginjal. Tata laksana krisis hipertensi mengacu pada presentasi klinis pasien.
Kata kunci: Hipertensi emergensi, Hipertensi urgensi, HMOD, Krisis hipertensi

Abstract
Hypertensive crisis is classified into hypertensive emergency and urgency based on the presence or absence of acute end-organ damage. Hypertension crisis is defined as blood pressure ≥180/≥120 mmHg with or without signs of organ damage. Hypertension mediated organ damage (HMOD) refers to structural and functional changes in arteries or organs such as the heart, blood vessels, brain, eyes, and kidneys. Management of hypertensive crisis refers to the clinical presentation of the patient. 
Keywords: Crisis hypertension, Emergency hypertension, HMOD, Urgent hypertension

 

PENDAHULUAN

Krisis hipertensi merupakan istilah yang menggambarkan peningkatan secara mendadak pada tekanan darah sistolik 180 mmHg dan/atau diastolik 120 mmHg dengan atau tanpa tanda-tanda kerusakan organ pada penderita hipertensi, yang membutuhkan penanganan dengan segera.[1] Krisis hipertensi terbagi menjadi; hipertensi emergensi/darurat dan hipertensi urgensi/mendesak.[2] 

Hipertensi emergensi merupakan kondisi meningkatnya tekanan darah yang berat dan diikuti dengan HMOD yang dapat mengenai organ jantung, pembuluh darah, otak, mata maupun ginjal; bahkan sering mengancam jiwa dan membutuhkan intervensi segera.[3,4] Sebaliknya, hipertensi urgensi merupakan situasi peningkatan tekanan darah yang parah namun tanpa adanya tanda – tanda kerusakan organ.[1]

 

DIAGNOSIS

Diagnosis hipertensi emergensi ataupun urgensi dapat ditegakkan dari pengumpulan data yang menyeluruh (lihat Tabel 1) berupa anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.[2,3] Riwayat medis menyeluruh harus digali dan difokuskan pada beberapa aspek seperti:

CVD: cardiovascular disease, TIA: transient ischemic attack

 

Tujuan dari evaluasi klinis ini adalah untuk menetapkan diagnosis dan derajat hipertensi, skrining terhadap potensi hipertensi karena penyebab sekunder, identifikasi faktor yang berkontribusi pada perkembangan hipertensi (gaya hidup, obat yang dikonsumsi, riwayat keluarga), mengidentifikasi faktor risiko kardiovaskular, serta untuk memastikan adanya HMOD akut ataupun penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, atau penyakit ginjal yang sudah ada sebelumnya.3

Selain melakukan penilaian berdasarkan riwayat rekam medis secara menyeluruh, pengukuran tekanan darah harus dilakukan menggunakan cara yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahan dalam penegakan diagnosis (lihat Gambar 1).[5]

Gambar 1. Cara Pengukuran Tekanan Darah (modifikasi dari Unger, et al. 2020)5

Pemeriksaan dasar pada pasien hipertensi sebaiknya dilakukan untuk seluruh pasien hipertensi (gambar 2).3 The European Society of Cardiology merekomendasikan agar semua pasien hipertensi dilakukan pemeriksaan dasar terkait HMOD yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan terkait pengobatan hipertensi selanjutnya (lihat Tabel 2). 

HbA1c: hemoglobin A1C, eGFR: estimated glomerular filtration rate, LDL: low-density lipoprotein, HDL: high-density lipoprotein

Gambar 2. Pemeriksaan Rutin dalam Evaluasi Pasien Hipertensi[3]

ABI: ankle-brachial index, CKD: chronic kidney disease, CT: computed tomography, eGFR: estimated glomerular filtration rate, EKG: elektrokardiogram, MRI: magnetic resonance imaging, PWV: pulse wave velocity.

 

KESIMPULAN

Pasien dengan peningkatan tekanan darah yang berat memerlukan pemeriksaan yang cermat, terlebih dalam mencari tanda dan gejala dari kerusakan organ target. Kecepatan dan ketepatan dalam menegakan diagnosis yang didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang diperlukan untuk membedakan antara keadaan hipertensi emergensi dan urgensi sehingga dapat memberikan tatalaksana komprehensif, melindungi fungsi organ, serta menghindari komplikasi yang mengancam jiwa.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Brathwaite L, Reif M. Hypertensive emergencies: a review of common presentations and treatment options. Cardiol clin. 2019;37(3):275-86. doi: 10.1016/j.ccl.209.04.003.
  2. Gauer R. Severe asymptomatic hypertension: evaluation and treatment. American family physician. 2017;95(8):492-500.
  3. Williams B, et al. 2018 ESC/ESH Guidelines for the management of arterial hypertension: The Task Force for the management of arterial hypertension of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Society of Hypertension (ESH). European Heart Journal. 2018;39(33):3021-104. doi: 10.1093/eurheartj/ehy339.
  4. Nadar SK, Lip GYH. The heart in hypertension. Journal of Human Hypertension. 2021;35(5):383-6. doi: 10.1038/s41371-020-00427-x
  5. Unger T, et al. 2020 International Society of Hypertension global hypertension practice guidelines. Hypertension. 2020;75(6):1334-57. doi: 10.1161/HYPERTENSIONAHA.120.15026
Hubungi Kami